Kaus Kaki Kecil
Lelaki itu berdiri di pintu dapur. Kurus. Ia memasang telinganya baik-baik, sebelum suara istrinya tenggelam di antara dentang panci, desis penggorengan, dan desir keran.
“Capek, capek, capek,” hanya itu yang bisa ia tangkap, dan di wajah istrinya, sesuatu yang lebih pekat dari lelah sedang berkumpul.
Lelaki itu berdiri di pintu dapur. Tangannya terulur, ingin menyentuh bahu istrinya. “Sayang,” katanya, “aku tak tahu harus bagaimana lagi menjadi sandaranmu.”
Di laci kamar mereka masih tersimpan sepasang kaus kaki kecil, dibeli tiga tahun lalu, belum pernah dipakai siapa pun.
Istrinya menutup keran. Tangannya yang basah berhenti sejenak di atas wastafel, gemetar kecil, seperti hendak mengucapkan sesuatu lewat jarinya sendiri, lalu mengelapnya cepat-cepat ke celemek, seolah gemetar itu tak pernah ada.
Satu jam kemudian istrinya berhenti berbicara. Ketika perempuan itu berjalan ke luar dapur dan masuk ke kamar tidur, rasa asing merambat ke ruang tengah, dan kalimat-kalimat yang biasa mereka pertukarkan sebelum tidur, tenggelam, tak lagi ingin diucapkan siapa pun.
Catatan: Ini adalah latihan menulis adegan #1 dari kelas menulis cerpen yang sedang saya ikuti. Untuk latihan ini, kami diminta menulis adegan dengan mengambil model dari sebuah puisi. Saya mengambil model dari “Orang Kurus” karya Goenawan Mohamad.



Salam, Uda! Saya baru ngerti, membikin cerita pendek dari sari-sari karya sastra lain, seperti puisi, atau cerita pendek lainnya yang sudah lebih dulu lahir, ternyata boleh, dan hasilnya keren. Bolehkah saya menjajal hal yang sama?